ricky

Kamis, 30 Oktober 2008

TERSISIHKAN

Pola keberagamaan seseorang sejatinya baru dapat dinilai ideal danutuh (kaffah) apabila dibarengi upaya serius bagi pemihakan terhadaporang-orang yang tesisihkan (mustad'afin). Dengan kata lain, tingkatkesalehan ritual-formal-individual haruslah bersinergi dengankesalehan sosial dan perhatian terhadap aspek kemanusiaan.Oleh: M. Abdul Hady JM **Pada hakikatnya, semua agama diturunkan untuk kepentingan manusia,bukan untuk kepentingan Tuhan. Dalam rumusan Imam al-Syathibi, agamadisebut sesuatu yang "bersumber dari Tuhan tapi diperuntukkan bagimanusia" (Ilâhiyatul masdhar wa insâniyyatul maudhû').Rumusan ini mengandaikan bahwa pola keberagamaan yang ideal adalahterjadinya pergulatan antara pemenuhan kepentingan Tuhan dan manusia.Ini juga berarti bahwa pelaksanaan ritual-formal-individual agamaharus bersinergi dengan upaya pembelaan atas nilai-nilai kemanusiaan.Karena itu, Moeslim Abdurrahman (2005) menandaskan bahwa "kemungkaransosial lebih berbahaya secara kemanusiaan daripada kelalaian ritualnormatif".Kini, fenomena religiusitas masyarakat Indonesia mengalamipeningkatan yang cukup pesat. Gairah religiusitas masyarakatmengalami eskalasi yang sangat menggembirakan. Namun, tingkat korupsijuga semakin mengharu-biru. Ini kenyataan yang ironis, karenakenyataan itu terjadi di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakartabeberapa tahun lalu menunjukkan fakta keberagamaan yangmemperihatinkan. Ternyata, kini korupsi yang merajalela justruterjadi tatkala masyarakat semakin santri. Masyarakat Indonesia kinisemakin taat secara ritual-formal keagamaan. Korupsi tak terbendungmeski masjid makin penuh-sesak, dan jamaah yang menunaikan hajisemakin membludak.Selama ini ada asumsi umum cukup kuat di tengah masyarakat bahwasubstansi agama terletak pada ritual-formal-individual setiap pemelukagama. Amalan-amalan ritualistik ini diyakini sebagai kunci pentingmenuju surga. Ia akan membawa pada keselamatan dan kebahagiaaneskatologis yang abadi. Akibat pola pemahaman agama semacam ini,seseorang yang makin saleh secara ritual keagamaan justru semakin takpeduli dan apatis terhadap persoalan kemanusiaan.Karena itu, menumbuhkan semangat pembaruan dan penyegaran pemahamankeagamaan cukup mendesak untuk dilakukan. Pola keberagamaan seseorangsejatinya baru dapat dinilai ideal dan utuh (kaffah) apabiladibarengi upaya serius bagi pemihakan terhadap orang-orang yangtesisihkan (mustad'afin). Dengan kata lain, tingkat kesalehan ritual-formal-individual haruslah bersinergi dengan kesalehan sosial danperhatian terhadap aspek kemanusiaan.Dua Langkah RekonstruksiUntuk merekonstruksi model pemahaman agama, langkah pertama danterpenting adalah melakukan telaah kritis-analitis yang menyeluruhterhadap agama, baik dari sisi kesejarahan habitat awal munculnyasuatu agama maupun dari sisi doktrinal-normatifnya.Pertama, dari sisi historis awal mula kelahiran agama, kita akan tahubahwa sebuah agama muncul untuk merespons penderitaan dankesengsaraan yang mencekam kehidupan umat manusia akibat penindasandan eksploitasi yang dilakukan komunitas sosial maupun individul yangdominan. Agama lahir sebagai bentuk keprihatinan atas realitas sosialyang timpang. Untuk itu, kehadiran agama merupakan upaya kritik danpembelaan atas upaya-upaya dehumanisasi, penistaan terhadap harkatdan nilai-nilai kemanusiaan.Dalam catatan sejarah, sejumlah pendiri agama (Nabi) justru datangdari komunitas sosial yang mengalami penindasan dan eksploitasi cukuplama. Musa tampil karena prihatin atas penderitaan Bani Israil yangdalam rentang waktu cukup lama ditindas Fir'aun. Isa al-Masih (Yesus)juga datang kerena prihatin atas penderitaan rakyat banyak padazamannya.Nabi Muhammad kurang lebih juga mempunyai peranan dan misi yang sama.Pada awal masa kelahirannya, Islam melontarkan kritik cukup mendasarpada sistem sosial-ekonomi dan budaya Quraisy Mekkah. Sistem sosial-ekonomi yang menindas dan diskriminatif serta ketiadaan tanggungjawab sosial (sense of social responsibility) itu cukup mengakardalam kehidupan mereka sehari-hari.Melihat kondisi sosial yang amat timpang ini, Nabi mengambil peransebagai pemimpin kaum tertindas dan lebih memilih gaya hidup mereka.Kemudian beliau melakukan upaya pembelaan terhadap mereka. Itulahuraian ringkas yang cukup mudah kita temukan dalam beberapa literatursejarah agama-agama dan pendirinya.Kedua, dari sisi doktrinal-normatif agama, teks-teks suci agama yangbersifat normatif sangat perlu dipahami secara utuh, sehingga nilai-nilai substansial agama dapat ditangkap secara keseluruhan. Dalambanyak ayat Alqur'an, misalnya, kita dapat menemukan penjelasan bahwaagama mengandaikan keseimbangan antara dua kepentingan, Tuhan danmanusia. Bahkan problem kemanusiaan terkadang lebih penting untukdikedepankan.Surat-surat awal Alqur'an seperti al-Ma'un, al-Kautsar, al-Humazah,al-Fajr, al-Lail dan al-Balad, menunjukkan indikasi ke arah itu.Surat-surat tersebut sangat mengecam praktik akumulasi kekayaan yangdiperoleh melalui cara eksploitasi sosial ekonomi dalam bentukketidakpedulian atas penderitaan orang-orang tertindas dan lemah(anak yatim, miskin, dll.).Dalam surat al-Ma'un juga ditegaskan bahwa para pendusta agama adalahmereka-mereka yang hanya menikmati sembahyang (juga ritual-ritualformal lainnya), tapi lupa akan nasib orang-orang yang tereliminasidan menderita secara sosial-ekonomi. Bahkan, dari sekian banyak ayatAlquran, jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan kehidupan sosial jauhlebih banyak ketimbang ayat-ayat ibadah ritual-formal-individual.Bahkan, perbandingannya hampir satu berbanding seratus.Hal ini cukup menjadi bukti bahwa agama, sejatinya untuk menjaganilai dan memenuhi kepentingan kemanusiaan, bukan (hanya) untukmemapankan kekuasaan Tuhan. Dalam kaidah usul fikih pun disebutkanbahwa "amal perbuatan yang dapat dirasakan mamfaatnya oleh orangbanyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnya hanya dirasakandiri sendiri" (al-muta'addî afdlal minal qâshir). Itulah penjelasancukup valid yang mudah ditemukan, ketika kita membaca beberapaliteratur sejarah agama dan sumber doktrinal-normatif agama secarautuh.Karena itu, masuk akal bila "manusia tercerahkan" menurut AliSyari'ati tak lain adalah "mereka-mereka yang tak hanya memilikitanggung jawab ibadah-ritual kepada Allah, tapi sekaligus orang yangpunya tanggung jawab sosial kemanusiaan pada sesama saudaramanusianya". Tanpa adanya komitmen sosial (ibadah sosial) seseorangbelum dapat dikatakan sebagai manusia yang tercerahkan dan polakeberagamaannya tidak dapat dianggap utuh dan ideal.

1 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda